Minggu, 25 September 2016

Pembelajaran Tanpa Kertas

Saya belajar setiap hari dan biasanya saya menggunakan kertas sebagai salah satu media utama. Namun, akhir-akhir ini saya mencoba untuk menjauhi kertas. Ekstrimnya, saya menganggap kertas adalah musuh. Saya tidak akan menggunakannya kecuali memang benar-benar dibutuhkan.

Saya dan generasi seusia, dikatakan sebagai digital immigrant. Menurut technopedia, definisinya adalah an individual who was born before the widespread adoption of digital technology. The term digital immigrant may also apply to individuals who were born after the spread of digital technology and who were not exposed to it at an early age. Digital immigrants are the opposite of digital natives, who have been interacting with technology from childhood.


Makin kesini, belajar mengajar semakin meninggalkan kertas. Teknologi pembelajaran, teknologi telekomunikasi yang semakin maju senantiasa memaksa kita untuk terus memperbarui cara, metode dalam proses pembelajaran. Alih-alih menganggap kemajuan sebagai ancaman, kita harus belajar memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan esensi belajar mengajar.

Setiap hari saya berproses, belajar bersama dengan digital natives. Mereka ini adalah generasi baru dengan pola pikir, kebiasaan, cara komunikasi dan cara belajar yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Ada tulisan menarik  di huffington yang mengatakan bahwa ada gap yang lebar antara generasi pencipta teknologi dengan penikmat kemajuan teknologi itu sendiri. Menjadi sangat relevan, kenapa akhirnya Steve Jobs melarang anaknya bermain iPad.

Jadi, bukan hanya karena isu sustainable saya menjadi enggan menggunakan kertas, lebih dari itu, saya ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang saya lakukan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar