Selasa, 03 Juni 2014

Fitnah Politik

Beberapa saat lagi, kita sebagai warga negara Indonesia, "dipaksa" oleh sebuah sistem untuk memilih pemimpin, presiden istilahnya. Kenapa dipaksa? Iya, karena memang sebagian besar dari warga negara ini dihinggapi ketidaktahuan. Ketidaktahuan kenapa harus memilih, diperparah lagi dengan kebutaan akan siapa yang seharusnya dipilih. Ingat pemilu legislatif kemarin? kita hanya disuguhi "penunggu" pohon, jembatan, lapangan kosong. Namanya juga penunggu, tak ada yang sedap dipandang, bahkan kadang mengagetkan. Satu hal yang saya tetap gagal paham, kenapa dengan hanya memasang gambar diri di pohon, mereka berharap mendulang suara? Sampai akhirnya saya tidak menemukan alasan untuk memilih salah satu dari mereka bahkan hingga saya memasuk kotak suara.

Menjelang pilpres mendatang, rupanya ada model baru namun tetap tidak bermutu. Fitnah, saling serang, saling buka aib memenuhi linimasa semua media. Masing-masing timses berusaha menonjolkan jagoannya agar merebut simpati masyarakat. Yang paling memuakkan bagi saya adalah, kecenderungan untuk mengeksploitasi hal buruk dari pihak lawan demi kepentingan calonnya. Isu SARA, HAM, keluarga dijadikan senjata utama untuk menyerang lawan. Repotnya, tidak ada proses klarifikasi dan tidak ada yang menjamin kebenarannya. Akhirnya, condong kepada fitnah. Saya, dan kebanyakan orang sebenarnya enggan merima informasi masif tentang keburukan yang berbau fitnah ini. Saya membutuhkan informasi yang lebih berkualitas dan berkelas untuk segera bergegas menentukan pilihan  

Memang tidak mungkin kita berharap Secara umum ada dua pendekatan yang diajarkan tentang bagaimana memilih seorang pemimpin. Pertama, adalah  jika sama-sama baik, maka piilihlah yang lebih banyak kebaikannya. Darimana kita mengetahui kebaikannya jika yang diekspos melulu aib. Berikutnya adalah jika memang sama-sama buruknya, maka pilih yang paling sedikit keburukannya. Nah, ukuran ini juga absurd. Di benak saya saat ini keduanya sama-sama ancur. Apakah memang seperti ini karakter dari sebagian besar masyarakat Indonesia, dimana sebagian besar sangat haus akan aib orang lain. Mental infotainment yang menjadikan pikiran menjadi kerdil untuk melihat kebaikan sesama. Saya sangat yakin, para elit mempunyai gagasan yang lebih baik tentang berkampanye, tapi apa boleh buat, karena pasar memang membutuhkan asupan aib.

Di akhir tulisan ini, ijinkan saya untuk menyampaikan nasehat dari guru kami tentang bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi fenomena politik Guru kami berwasiat, gunakanlah hak pilih kita. Namun tinggalkanlah kancah panasnya pemilu, jadilah insan yang menjadi penyejuk jiwa yang berpecah belah dan gundah, biarkan saudara kita memilih sesuai dengan keinginannya. Jangan sampai ikut terhanyut dengan aksi saling fitnah, saling mencai maki calon ataupun pendukungnya. Jadilah orang yang arif bijaksana, tidak ternoda dengan sikap saling memusuhi. Rukunlah meski berbeda pendapat, karena diatas itu semua, kita adalah saudara sesama muslim, yang nilainya jauh lebih tinggi. Tidak pantas rusak dan hancur hanya gara-gara sinetron politik. Salam ukhuwah semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar